Budaya Geisha Di Jepang, Pelaku Seni Yang Menjadi Daya Tarik Khusus

Bagi para penikmat budaya atau yang baru pertama kali menyambangi Jepang, Kota Kyoto merupakan keliru satu destinasi wisata yang tidak boleh terlewatkan. Di kota ini, kamu bukan hanya mampu mendapatkan kuil yang indah, tetapi juga geisha. Dengan pupur putih di wajah, bibir dan pipi yang merah, geisha berlangsung bersama dengan anggun dan tenang. Pembawaannya berwibaya, ia muncul santun, tidak tersedia gerakan yang berlebihan. Ia melangkah pasti, sambil mengenakan kimono dan memegang payungnya. Di sekitarnya, orang-orang muncul memandanginya bersama dengan mata kagum.

Sebab geisha yang biasa hanya mampu dilihat di televisi atau layar lebar, kini mampu mereka temui langsung. Geisha adalah pekerja seni dan budaya Jepang yang bertugas untuk menghibur. Dilansir Culture Trip, Geisha diakui sebagai pelindung budaya dan adat kuno. Mereka adalah seniman yang menghibur tamunya bersama dengan banyak ragam cara. Seperti menemani untuk berbincang, bernyanyi, menari, atau minum teh, atau sekedar bermain judi yang kini bisa kalian temukan di agen sbobet asia. Istilah geisha berasal dari bahasa Jepang, yaitu huruf kanji untuk “seni” 芸 (gei) dan “pelaku” 者 (sha) yang bermakna seniman pertunjukan. Dalam budaya tradisional maupun kontemporer, geisha biasanya disewa sebagai guru budaya.

Geisha tinggal didalam sebuah rumah yang dikenal sebagai Okiya. Di Okiya, kamu akan menikmati pengalaman mencicipi budaya Jepang yang orisinil dan klasik. Bila seperti mengikuti upacara minum teh, bernyanyi, menari, atau sekadar berbincang. Untuk mereka yang menyenangi kebudayaan Jepang, geisha dan Okiya adalah cara untuk melepas diri dari banyak ragam aktivitas dan kegiatan. Ketika berjumpa bersama dengan geisha, mereka akan menikmati waktu yang tenang sambil menyelami budaya klasik Jepang yang indah seperti kaligrafi yang menjadi salah satu jenis kesenian lukis terpopuler di dunia.

Sejarah Pertama Budaya Geisha Di Jepang

Tapi tahukah kamu bahwa pada era lampau, geisha bukanlah perempuan. Ya, mereka awalnya adalah laki-laki yang lebih dikenal sebagai taikomochi. Taikomochi sudah tersedia sejak abad ke-13. Tugasnya sama, mereka bekerja sebagai seniman yang menghibur tamunya bersama dengan menampilkan budaya klasik Jepang. Geisha wanita diketahui baru tersedia pada Zaman Edo, tepatnya abad ke-18. Hanya wajib 25 tahun, geisha wanita menjadi lebih populer dan jumlahnya melampaui taikomochi.

Terutama disaat Perang Dunia II, Jepang mengalami perubahan yang besar. Ketika itu, taikomochi lebih-lebih bersama dengan cepat menjadi tipe pekerjaan yang nyaris punah. Kini hanya tersedia lima taikomochi saja yang bekerja di Jepang, empat orang di Tokyo dan satu orang lainnya di Kyoto. Sementara geisha, sejalan kala meskipun tak tersedia angka pasti didalam catatan.

Diperkirakan tersedia sekitar 600 orang yang bekerja di seluruh Jepang. Walaupun kuantitas ini dinilai mengalami penurunan banyak dari angka 40-80 ribu sepanjang era Shōwa awal (1926-89), kuantitas ini tetap jauh lebih banyak dari pada taikomochi. Sejak pernah sampai sekarang, pusat geisha berada di Kyoto. Geisha di Kyoto lebih dikenal sebagai Geiko, kala para wanita yang tetap studi menjadi geisha dikenal sebagai Maiko.

Maiko biasanya berusia sekitar 15-20 tahun, di luar Kota Kyoto, mereka dikenal sebagai Hangyouku. Untuk mampu menjadi geisha, seorang wanita wajib berlatih sepanjang lima tahun. Ia wajib paham cara merangkai bunga, menarikan tarian dan bernyanyi lagu tradisional, mampu memainkan alat musik tradisional seperti shamisen, dan juga paham upacara minum teh. Geisha yang sudah memiliki pengalaman biasanya akan mempunyai berlebihan lebih dari itu. Mereka mempunyai etika yang baik dan mampu menghibur kliennya bersama dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *