Tradisi Bunuh Diri di Jepang?

Setiap negara memiliki tradisi sendiri, ada yang menurut suatu bangsa itu baik, ada juga yang menurut bangsa lainnya bukan merupakan hal yang baik. Seperti halnya bunuh diri, di beberapa negara, bunuh diri merupakan tindakan yang dianggap gegabah dan kurang mensyukuri apa yang ada di dalam hidup. Sedangkan di Jepang, ini sudah menjadi tradisi yang dikenal dengan nama Seppuku atau Harakiri.

Mereka yang melakukan tradisi ini umumnya merupakan kalangan samurai dan dilakukan karena sudah merasa kalah di medan perang serta merasa malu. Rasa malu untuk orang Jepang memiliki maknanya tersendiri, kalau mau mengembalikan kehormatan, maka ritual Harakiri ini harus dilakukan. Selain bunuh diri, bisa juga meminta pihak musuh yang melakukannya. Itu dilakukan sebagai tanda hormat.

Berdasarkan literatur Jepang, Ritual ini pertama kali dilakukan oleh seorang penyair populer yang bernama Minamoto on Yorimasa (1106 – 1180 M). Saat perang Genpei yang dimulai dari pertempuran Uji (1180 M). Setelahnya ritual ini dikenal sebagai kode kehormatan untuk seorang samurai yang ingin mengakhiri hidupnya.

Pada era industrialisasi, fenomena bunuh diri di Jepang saat ini juga ikut melakukan transformasi. Tradisi zamannya yang sudah berlangsung sejak lama tidak begitu diurungkan meski peradaban kini telah berubah. Kalau duku Harakiri/Seppuku hanya dilakukan oleh para samurai atau mereka yang memiliki darah keturunan bangsawan, kini tradisi sudah bergeser.

Selain itu biasa mereka melakukan ini bukan hanya karena malu, tetapi juga keputusasaan serta depresi. Ini menjadi sebab tertinggi orang-orang di Jepang melakukan tradisi ini. Bahkan di Jepang terdapat lokasi yang sudah sangat terkenal untuk mereka yang hendak mengakhiri hidupnya.

Tempat tersebut merupakan hutan Aokigahara. Tempat ini merupakan hutan lebat yang memiliki pepohonan yang rindang dan menjulang tinggi. Kalau diteluri ke dalam hutan, tidak akan ditemukan hewan liar di dalam hutan ini. Kenapa? Karena hutan ini terlalu rindang, sehingga hewan – hewan tidak bisa dengan santai berlalu-lalang di hutan.

Saat mengunjungi hutan ini, pengunjung akan langsung disuguhi dengan tulisan yang baik berbahasa Jepang maupun berbahasa Inggris. Tulisan tersebut memberikan himbauan agar para pengunjung tidak melakukan bunuh diri di dalam hutan itu, ada juga tulisan yang mengingatkan mengenai keluarga yang ada di rumah.

Salah satu tulisan yang ada di papan berbunyi “Renungkan orang tuamu, saudara kandung, dan anak-anakmu sekali lagi. Jangan ganggu sendirian.” Ini merupakan himbauan resmi dari Aokigahara forest.

Tentu saja ini dilakukan karena memang tingkat bunuh diri di hutan Aokigahara sudah sangat tinggi. Meski sudah dilakukan berbagai upaya agar bisa membendung angka kematian bunuh diri di sana, tetap saja akan terdapat sejumlah mayat yang menggantung di sejumlah pepohonan di jalan – jalan. Mayat yang sudah lama berada di sana biasanya akan dimakan rayap, membuat mereka tidak lagi dikenali identitasnya.

Menurut Aokigahara forest, angka kematian bunuh diri orang Jepang yang ada di hutan tersebut dipicu karena tekanan pekerjaan yang tinggi dari perusahaan, ada juga yang karena mereka dipecat. Sementara untuk jumlah pasti berapa orang yang sudah bunuh diri di dalam hutan tersebut, hingga kini tidak diketahui pasti karena pihak pemerintah Jepang melarang untuk mempublikasikannya. Tetapi sempat tercatat angka kematian di tahun 1998 sebanyak 73 orang, dan terakhir diketahui kalau angka kematian di tahun 2003 menjadi 103 orang.

Dengan memilih mati di hutan Aokigahara, menurut orang Jepang itu merupakan tindakan yang terhormat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *