Arsip Tag: Jawa Timur

Tarian Reog Ponorogo Indonesia

Tarian Reog Ponorogo Indonesia

Reog atau Réyog ialah tarian tradisional Indonesia di arena tersingkap yang berguna sebagai hiburan rakyat, mempunyai kandungan bagian magis, penari utamanya ialah orang berkepala singa bareng dengan dekorasi bulu merak , disempurnakan lebih dari satu penari topeng dan Kuda Lumping . Reog adalah salah satu seni peragaan atau festival tari di Indonesia yang berasal dari distrik barat laut Jawa Timur dan Ponorogo adalaharea asal Reog. Gerbang kota Ponorogo dihiasi bareng dengan warok dan gemblak , dua karakteryang datang pada selagi pementasan Reog. Reog adalahsalah satu kebiasaan Indonesia yang tetap terlalu kental bareng dengan bagian mistik dan ilmu kebatinan. Pada tahun 2013, tradisi Reog Ponorogo dirasakan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sejarah Tarian Reog Ponorogo

Tarian Reog Ponorogo Indonesia

Tarian tersebut mencerminkan Klono Sewandono raja Ponorogo dalam perjalanannya ke Kediri untuk menggali tangan Putri Songgo Langit. Dalam perjalanannya dia di serang oleh monster ganas mempunyai nama Singo Barong , seekor singa mistis bareng dengan kepala burung merak. Para pakar sejarah merunut asal awal Reog Ponorogo sebagai sindiran atas ketidakmampuan penguasa Majapahit pada akhir jaman kesultanan diceritakaan oleh https://asiasbobet.online/login/.

Ini menggambarkan kemerdekaan bawaan Ponorogo dan penentangannya pada dominasi Majapahit yang sentralis. Singa mewakili raja Majapahit sedang merak mewakili ratu, disarankan bahwa raja tidak kompeten dan senantiasa dikendalikan oleh ratunya yang saat itu tengah melakukan daftar sbobet. Penunggang kuda yang cantik, muda dan nyaris bancimenggambarkan kavaleri Majapahit yang udah kehilangan kejantanannya.

Di warga , terdapat versi lain tentang asal usul Reog. Sejarah Seni Reog bermula dari penentangan Ki Ageng Kutu, seorang lelaki Kerajaan Majapahit pada abad ke-15, dimana pada selagi tersebut Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Kertabhumi Bhre sangat akhir Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Kutu murka atas tingkah laku korup Rajanya, ia memandang bahwa dominasi Kerajaan Majapahit akan langsung berakhir.

Ia meninggalkan Kerajaan dan menegakkan Sekolah Tinggi Seni Bela Diri bareng dengan asa dapat memperbanyak bibit yang dapat diselenggarakan layaknya di bawah. Sadar bahwa tentara tidak dapat bersaing bersama dengan tentara Majapahit pesan politik Ki Ageng Kutu dikatakan melalui peragaan Reog. Pertunjukan Reog manfaatkan Ki Ageng Kutu untuk membina perlawananke Royal Society. Dalam peragaan kesenian Reog ditunjukkan kepala topeng berupa singa yang dinamakan “Singo Barong”, Raja-raja hutan yang menjadi simbol Kertabhumi, dan ditancapkan pada bulu- bulu merak serupa kipas raksasa yang menggambarkan efek powerful bangsa.

Mengatur pengucapan bahasa Mandarin dari rekan-rekan di atas semua. Jathilan yang dimainkan oleh sekelompok penari gemblak berupa kuda menjadi simbol dominasi Kerajaan Majapahit menjadi komparasi kontras bareng dengan kebolehan warok. Topeng badut merah yang menjadi simbol Ki Ageng Kutu, sendirian dan mendukung mutu topeng Singo Barong yang menjangkau di atas 50 kg cuma bareng dengan manfaatkan giginya. Popularitas Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi memungut alih perbuatan dan menyerang perguruan Kutu, penentangan oleh warok bareng dengan cepat diatasi, dan perguruan itu dilarang guna tetap melatih mengenai warok. Namun siswa Ki Ageng Kutu senantiasa melanjutkan