Barongsai merupakan sebuah tarian tradisional asal Tingkok yang menggunakan properti yang membuat mereka menjadi seperti singa. Barongsai sudah ada sejak ribuan tahun lalu, bahkan catatan pertama mengenai tarian ini sudah ada sejak zaman Dinasti Chin, kisaran abad ketiga sebelum masehi.

Kesenian barongsai ini mulai menjadi popler sejak zaman Dinasti Selatan – Utara pada tahun 42- – 589 masehi. Saat itu pasukan dari raja Song Wen Di memiliki kesulitan untuk bisa menghadapi pasukan gajah Fan Yang yang berasal dari negeri Lin Yi. Akhirnya seorang panglima perang yang bernama Zhong Que membuat tiruan Singa untuk dapat mengusir raja Fan tersebut. Ternyata upaya itu sukses, sebab itulah akhirnya barongsai melenggenda hingga kini.

Lalu bagaimana cara Barongsai bisa masuk ke Indonesia?

Sejarah Barongsai di Indonesia

Diperkirakan kesenian Barongsai ini masuk ke Indonesia pada abad ke-17, saat terjadi migrasi besar – besaran dari Tiongkok Selatan. Lalu kesenian ini mulai mengalami masa kejayaannya pada saat terdapat perkumpulan Tionghoa Hwe Koan di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan kala itu hampir dipastikan kalau pada berbagai perkumpulan tersebut memiliki perkumpulan barongsainya.

Namun perkembangan dari barongsai ini harus berhenti ketika tahun 1965, yang dimana pada tahun itu terjadi gerakan 30 SPKI. Karena kondisi politik pada saat itulah, segala bentuk keduayaan Tionghoa di Indonesia menjadi bungkam. Bahkah pada kala itu, barongsai dimusnahkan dan dilarang untuk bisa dimainkan.

Pada masa tersebut, satu – satunya tempat dimana mereka dapat menampilkan barongsai besar – besaran berada di kota Semarang. Yaitu di panggung besar kelenteng Sam Poo Kong atau dikenal dengan Kelenteng Gedong Batu.

Acara itu dilakukan setiap tahun pada bulan 6 penanggalan Tionghoa di tanggal 29 – 30. Terdapat 6 perguruan di Semarang yang mementaskan barongsai tersebut. Ada Sam Poo Tong, Hoo Hap Hwee, Sjien Gie Tong, Hauw Gie Hwee, dan Porsigab.

Meski bermain barongsai diatas nama keenam kelompok itu, bukan berarti hanya ada orang – orang Semarang, karena 6 perguruan tinggi tersebut memiliki cabang di Pulau Jawa hingga Lampung.

Barongsai kembali bangkit setelah tahun 1998, peristiwa yang terjadi pada tahun tersebut membuat kesenian dari Tionghoa kembali bisa bangkit. Banyak juga perkumpulan barongsai yang terus bermunculan hingga kini.

Kini juga sudah bukan hanya mereka yang merupakan kaum muda Tionghoa, tapi juga banyak diantara mereka yang merupakan kaum pribumi yang ikut mempelajari kesenian satu ini.

Saat ini barongsai sudah diperlombakan, ada juga Federasi Olahraga Barongsai Indonesia atau FOBI. Mereka menaungi kesenian barongsai dan juga telah diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia KONI. Jadi kini pemain barongsai dapat disebut sebagai atlet barongsai. Untuk di Indonesia sendiri, para atlet barongsai telah meraih juara di kejuaraan dunia.

KEsenian barongsai juga muncul di beberapa kota di Indonesia, seperti misalnya di Purwokerto, Magelang, Cilacap, dan banyak kota di Indonesia lainnya. Perkembangan ini bisa dikatakan cukup pesat, bisa dilihat dari prestasi yang ada, bahkan tim Indonesia dapat mengalahkan tim dari Tiongkok.

Pertandingan – pertandingan pada tingkat internasional bisa memberikan pelajaran dan pengalaman untuk untuk bisa lebih baik ke depannya. Berharap untuk diselenggarakan kejuaraan – kejuaraan yang bisa lebih meningkatkan nilai kepada tim barongsai.

Semoga perkembangan barongsai di Indonesia ini akan semakin jaya dan membuat banyak anak muda bisa melestarikan budaya satu ini.

Leave a Comment on Sejarah Barongsai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *